Sunday, September 27, 2009

di rumah lama ini akan kubuat kembali baru..

aku akan betah di sini lagi

kawan2 silahkan masukk

Dengarkan Badai ini lebih dekat...

Saturday, September 26, 2009

sajak baru

Tubuh Sewaan

diriku rumah
yang ditinggalkan penghuninya

satu-satu mereka datang
berebutan mereka pergi
aku merasa begitu lama ditinggalkan
suara mereka yang terakhir pergi
diam-diam di suatu malam jejaknya
masih bersisa di halaman

“aku harus pergi, kau tak cukup mampu
diandalkan, sebagai penadah hujan
dari ancaman dan rasa lapar

aku merindukan derit ranjang
tangis bayi menjelang pagi
dinding-dinding penuh coretan
dan kata umpatan

aku merindukan seseorang
memasuki diriku
memperlakukannya sebagai rumah sendiri

2009

Dengarkan Badai ini lebih dekat...

sajak "Segeggam laut"

Segenggam Laut

tak pernah ada salju kukira
di tanah tropis ini matahari dan hujan berebut tempat
tapi aku merasa nasib buruk
dijatuhkan dari langit
tak kenal musim, tak kenal cuaca

aku memungut segenggam laut
jari-jariku yang cekung dan sedikit
tak mampu menyimpan apa pun
hanya garam kurasa, hanya asin garam
sisa perjalanan jauh sungai menuju muara
berbekas di kuku-kuku jari

di tanah tropis ini matahari dan hujan sama buruknya
aku merasa nasib buruk menggantung begitu dekat
dari tempat kami berdiri
pasir basah, bekas telapak hangus pada ombak
hidup kami terasa begitu sia-sia

apakah di luar sana?
benarkah salju turun serupa butiran kapas
di bangku-bangku, di taman-taman kota?
aku ingin menciptakan eskrim dengan rasa laut
dari bekas tanganku yang beku

hujan dan panas sama saja
tidak tercipta salju dari keduanya
hanya tanganku menggapai-gapai
segengam laut di tanganku kubayangkan
tanpa garam lalu menjelma mutiara

hingga kami tak perlu mendebatkan
apakah salju akan turun atau tidak
sebab dari laut kami bisa mencipta masa depan

segenggam, hanya segenggam saja
kering di tanganku yang berkarat

2009

Dengarkan Badai ini lebih dekat...

Thursday, July 09, 2009

sajak terjemahan

Octavio Paz

Dengan Mata Memejam


Dengan mata memejam
Engkau menyala di dalam
Engkau batu yang buta

Malam lalu malam kupahat engkau
Dengan mata memejam
Engkau batu yang berterusterang

Kita pun jadi besar tak terukur
Hanya peduli engkau dan aku
dengan mata memejam

(terjemahan oleh Alfian Harfi)

Dengarkan Badai ini lebih dekat...

Sunday, June 21, 2009

sajak Meninggalkan Rumah

Meninggalkan Rumah

kau tampak begitu terhina
melewati jalan-jalan yang memperlakukanmu
dengan sengit
langit seperti mendung
sejak pertama kau melepaskan rumah
dari ingatan

masih saja kau ingin pulang
merebahkan diri di ranjang, beranjak ke dapur
dan merenung di ruang belakang
mencomot satu demi satu kenangan
membuat hatimu terus-terusan basah

kenapa tak kau biarkan saja
angin merampas semuanya
dan merelakan hujan menciptakan
muara untuknya
tak ada apa-apa lagi setelah ia
membanting pintu dan membawa segalanya

mungkin ia akan kembali
tapi waktu tak pernah diam di situ saja
kau ingin berjalan-jalan sebentar
jalan-jalan adalah labirin, orang-orang
menghabiskan banyak usia di sana

kau terlambat menyadari
bahwa kau benar-benar sendiri
tak ada alamat yang pasti
dan kau akan tersesat jua akhirnya

april, 2009

Dengarkan Badai ini lebih dekat...

Sunday, June 07, 2009

AKU MAU POSTING LAGI NIH


KAngennnnn








Aku rindu

Dengarkan Badai ini lebih dekat...

AKU MAU POSTING LAGI NIH


KAngennnnn

Dengarkan Badai ini lebih dekat...